Thursday, December 17, 2015

Akhlak

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak
Secara etimologi (bahasa) kata akhlak ialah bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.1 Akhlak disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Khuluq merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh. Dalam bahasa Yunani pengertian khuluq ini disamakan dengan kata ethicos atau ethos, yang mempunyai arti adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika.2
Dalam kamus Al-Munjid, khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama,3 ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila. Di dalam Ensiklopedi Pendidikan dikatakn bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan (kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhdap sesama manusia.4
Ibnu Athir dalam bukunya “An-Nihayah” menerangkan: “Hakekat makna khuluq itu, ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang khalqu merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendah tubuhnya, dan lain sebagainya)”.5
1 A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm.11.
2 Sahilun A.Nasir, Tinjauan Akhlak, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1991), hlm. 14.
3 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: AMZAH, 2007), hlm. 3.
4 Soegarda Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta: Gunung Agung, 1976), hlm. 9.
5 Humaidi Tatapangarsa, Pengantar Kuliah Akhlak, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1984), hlm. 13.
5
Sedangkan secara istilah (terminologi) para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama yaitu tentang perilaku manusia. Pendapat- pendapat ahli tersebut antara lain:
1. Imam Ghazali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Atau bisa dikatakan perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan. Orang yang pemuraha sudah biasa memberi. Ia memberi itu tanpa banyak pertimbangan lagi. Seolah-olah tangannya sudah terbuka lebar untuk itu. Hal ini bisa terjadi karena yang bersangkutan sebelumnya telah berlatih, artinya sifat pemurah itu sudah biasa dia lakukan setiap saat. Begitu juga orang kikir, seolah-olah tangnnya sudah terpaku saja dalam kantongnya, tidak mau keluar mengulurkan bantuan kepada fakir miskin. Begitu juga orang pemarah selalu saja marah tanpa ada alasan yang jelas.
2. Abdul Hamid mengatakan akhlak ialah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kabaikan, dan tentang keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
3. Ibrahim Anis mengatakan akhlak ialah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia, dapat disifatkan dengan bai dan buruknya.
4. Soegarda Poerbakawatja mengatakan akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.
5. Hamzah Ya’qub mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
a. Akhlak ialah ilmu yang menentukan batas antara baik dan bururk, antara terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin.
b. Akhlak ialah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.6
6 Hamzah Ya’qub, Etika Islam, (Bandung: Diponegoro. 1993), hlm. 12.
6
6. Farid Ma’ruf mendefinisikan akhlak sebagai kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
7. M. Abdullah Daraz, mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar (akhlak baik) atau pihak yang jahat (akhlak buruk). Menurutnya, perbuatan-perbuatan manusia dapat dianggap sebagai manifestasi dari akhlaknya, apabila dipenuhi dua syarat, yaitu:
a. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama, sehingga menjadi kebiasaan.
b. Perbuatan-perbuatan itu dilakukan karena dorongaan emosi-emosi jiwanya, bukan karena adanya tekanan-tekanan yang daang dari luar seperti paksaan dari orang lain sehinggan menimbulkan ketakutan, atau bujukan dengan harapan-harapan yang indah-indah, dan lain sebagainya.7
8. Ibnu Maskawaih menyatakan, bahwa yang disebut “akhlak” ialah:
حَالٌ لِلىَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَهُمَا اِلَى اَفْعَالِهَا مِهْ غَيْزِ فِكْزٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya: “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melelui pertimbangan pikiran (lebih dulu)”.8
Ahmad Amin mengatakan bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya, kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Sedangkan kehendak menurut Ahmad Amin ialah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedangkan kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang besar inilah yang bernama akhlak.9
Keseluruhan definisi akhlaq tersebut diatas tampak tidak ada yang bertentangan, melainkan memiliki kemiripan antara satu dan lainnya. Definisi-
7 Humaidi Tatapangarsa, Pengantar Kuliah Akhlak, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hlm 16.
8 Zahruddin & Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 4.
9 Ibid, hlm. 5.
7
definisi akhlaq tersebut secara substansial tampak saling melengkapi, dan darinya kita dapat melihat 5 ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlaq, yaitu :
Perbuatan akhlaq adalah perbatan yang telah ditanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya. Jika kita mengatakan bahwa si A misalnya sebagai orang yang berakhlaq dermawan, maka sikap dermawan tersebut telah mendarah daging, kapan dan di manapun sikapnya itu dibawanya, sehingga menjadi identitas yang membedakan dirinya dengan orang lain. Jika si A tersebut kadang-kadang dermawan, dan kadang-kadang bakhil, maka si A tersebut belum dapat dikatakan sebagai seorang yang dermawan. Demikian juga jika kepada si B kita mengatakan bahwa ia termasuk orang yang taat beribadah, maka sikap taat beribadah tersebut telah dilakukannya di manapun ia berada.
Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan mdah dan tanpa pemikiran. Ini tidak berarti bahwa pada saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur, atau gila. Pada saat yang berangkutan melakukan sesuatu perbuatan ia tetap sehat akal pikirannya dan sadar. Oleh karena itu, perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dalam keadaan tidur, hilang ingatan, mabuk, atau perbuatan reflek seperti berkedip, tertawa dan sebagainya bukanlah perbuatan akhlaq. Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan oleh orang yang sehat akal fikirannya. Namun karena prbuatan tersebut sudah mendarah daging, sebagamana disebutkan pada sifat yang pertama, maka pada saat akan mengerjakannya sudah tidak lagi memerlukan pertimbangan atau pemkiran lagi. Hal yang demikian tak ubahnya dengan seseorang yang sudah mendarah daging mengerjakan sholat 5 waktu, maka pada saat datang panggilan sholat ia sudah tidak merasa berat lagi mengerjakannya, dan tanpa pikir-pikir lagi sudah dengan mudah dan ringan dapat mengerjakannya.
Bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Oleh karena tu, jika ada seseorang yang melakukan suatu perbuatan, tetapi perbuatan tersebut dilakukan karena paksaan, tekanan atau
8
ancaman dari luar, maka perbuatan tersebut tidak termasuk dalam akhlaq dari orang yang melakukannya.
Bahwa perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara. Jika kita menyaksikan orang berbuat kejam, sadis, jahat, dan seterusnya, tapi perbuatan tersebut kita lihat dalam pertunjukan film, maka perbuatan tersebut tidak dapat disebut perbuatan akhlaq, karena perbuatan tersebut bukan perbuatan yang sebenarnya. Berkenaan dengan ini, maka sebaliknya seseorang tidak cepat-cepat menilai orang lain sebagai berakhlak baik atau berakhlaq buruk, sebelum diketahui dengan sesungguhnya bahwa perbuatan tersebut memang dilakukan dengan sebenarnya. Hal ini perlu dicatat, karena manusia termasuk makhluk pandai bersandiwara, atau berpura-pura. Untuk mengetahui perbuatan yang sesungguhnya dapat dilakukan melalui cara yang kontiyu dan terus menerus.
Sejalan dengan ciri keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapat sesuatu pujian. Seseorang yang melakukan perbuatan bukan atas dasar karena Allah tidak dapat dikatakan perbuatan akhlak.10
Dari beberapa pernyataan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pada hakikatnya khuluq (akhlak) ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dari situlah timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan akhlak mulia dan sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka disebutlah akhlak yang tercela.
Al-Khuluq disebut sebagai kondisi atau sifat yang telah meresap dan terpatri dalam jiwa serta timbulnya perbuatan itu dengan mudah sebagai suatu kebiasan tanpa memerlukan pemikiran.
10 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo, tahun), hlm 6-7.
9
B. Macam-macam Akhlak
1) Akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah)
Hidup manusia terkadang mengarah kepada kesempurnaan jiwa dan kesucianya, tapikadang pula mengarah pada keburukan. Hal tersebut tergantung kepada beberapa hal yang mempengaruhinya. Menurut Ahmad Amin, keburukan akhlak (dosa dan kejahatan) muncul disebebkan karena “kesempitan pandangan dan pengalamannya, serta besarnya ego”.
Menurut Imam ghazali, akhlak yang tercela ini dikenal dengan sifat-sifat muhlikat, yakni segalah tingkahlaku manusia yang dapat membawanya kepada kebinasaan dan kehancuran diri, yang tentu saja bertentangan dengan fitrahnya untuk selalu mengarah kepada kebaikan. Al- ghozali menerangkan empat hal yang mendorong manusia melakukan perbuatan tercela (maksiat) diantaranya :
Dunia dan isinya, yaitu berbagai hal yang bersifat material (harta, kedudukan) yang ingin dimiliki manusia sebagai kebutuhan dalam melangsungkan hidupnya (agar bahagia).
Manusia. Selain mendatangkan kebaikan, manusia dapat mengakibatnkan keburukan, seperti istri, anak. Karena kecintaan kepada mereka, misalnya, dapat melalaikan manusia dari kewajbanya terhadap Allah dan terhadap sesama.
Setan (iblis) setan adalah musuh manusia yang paling nyata, ia menggoda manusia melalui batinya untuk berbuat jahat dan menjauhi tuhan.
Nafsu. Nafsuh ada kalanya baik (muthmainah) dan ada kalanya buruk (amarah), akan tetapi nafsuh cenderung mengarah kepada keburukan.
Pada dasarnya sifat dan perbuatan tercela dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Maksiat lahir
Maksiat berasal dari bahasa arab, ma’siyah, artinya “ pelanggaran oleh orang yang berakal balik (mukallaf), karena melakukan perbuatan yang dilarang, dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syariat Islam. Maksiat lahir, karena melakukan menggunakan alat-alat lahiriah, akan mengakibatkan
10
kekacauan dalam masyarakat, seperti pencurian, perkelahian (akibat fitnah, adu domba).
b. Maksiat Batin
Maksiat batin lebih berbahaya dibandingkan dengan maksiat lahir, karena tidak terlihat, dan lebih sukar dihilangkan. Selama maksiat batin belum dilenyapkan, maksiat lahir tidak bsa dihindarkan dari manusia. Bahkan para sufi menganggap maksiat batin sebagai najis maknawi, yang karena adanya najis tersebut, tidak memungkinkannya mendekati Tuhan (taqarrub ila Allah).
Maksiat batin berasal dari dalam hati manusia, atau di gerakkan oleh tabiat hati. Sedangkan hati memiliki sifat yang tidak tetap, terbolak-balik, berubah-ubah, sesuai dengan keadaan atau sesuatu yang mempengaruhinya. Hati terkadang baik, simpati, dan kasih sayang, tetapi disaat lainnya hati terkadang jahat, pendendam, syirik dan sebagainya.
Ada beberapa contoh penyakit batin (akhlak tercela) adalah:
1. Marah (ghadab), dapat dikatakan seperti nyala api yang terpendam didalam hati, sebagai salah satu hasil godaan setan terhadap manusia. Islam menganjurkan, orang yang marah agar berwudhu (menyram api kemarahan dengan air).
2. Dongkol (higd), perasaan jengkel yang ada dalam hati, atau buah dari kemarahan yang tidak tersalurkan, Rasulullah bersabda, “ orang mukmin itu bukanlah yang suka mendongkol”11.
3. Dengki (hasad), penyakit hati yang ditimbulkan kebencian, iri, dan ambisi. Islam melarang bersikap dengki, karena sesungguhnya dengki memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar”
4. Sombong (takabur), perassan yang terdapat di dalam hati seseorang, bahwa dirinya hebat, dan mempunyai kelebihan.
2) Akhlak Terpuji (Al-Akhlak Al- Mahmudah)
11 Zahruddin dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004). Hlm, 153,145 ,155
11
Menurut Al-Ghazali, berakhlak mulia atau terpuji artinya “ menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam Agama Islam serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat ke kebiasaan yang baik, melakukannya dan mencintainnya”.
Menurut Hamka, ada beberapa hal yang mendorong seseorang untuk berbuat baik, diantaranya:
1. Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain.
2. Mengharap pujian, atau karena takut mendapat cela.
3. Karena kebaikan dirinya (dorongan hati nurani).
4. Mengharapkan pahala dan sorga
5. Mengharap pujian dan takut azab Tuhan
6. Mengharap keridhaan Allah semata.
Akhlak yang terpuji berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma atau ajaran Islam. Berikut akan di paparkan beberapa akhlak terpuji:
1. Akhlak Terpuji Kepada Tuhan
a. Beriman Kepada Allah
Beriman kepada Allah, artinya ialah mengakui, mempercayai atau menyakini bahwa Allah itu ada, dan bersifat dengan segala sifat yang baik dan maha suci dari segala sifat yang buruk.
Seperti diketahui, bahwa di alam ini ada satu kekuatan tersembunyi yang menggerakkan dan mengatur seluruh hal ihwal alam. Kekuatan tersembunyi itu bagi alam seperti halnya kemauan kita di dalam diri kita. Dialah yang menjadi sebab ada dan berlangsungnya seluruh kehidupan di alam ini dengan baik, meliputi kehidupan manusai, binatang, tumbuh-tumbuhan, bumi, air, udara, dan benda-benda lainnya.
b. Beribadah/Mengabdi Kepada Allah
Tetapi Iman kepada Allah, tidak cukup hanya sekedar mempercayai akan adanya Allah saja, melainkan sekaligus juga harus diikuti beribadah/mengabdi kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang realisasi/manifestinya berupa:
12
diamalkannya sekala perintah Allah dan di Jauhi segala larangan Allah. Dan semuanya ini dikerjakan dengan tulus ikhlas, semata-mata karena Allah saja.
Karena itu orang yang Atheis atau orang yang tidak beriman kepada Allah, ia berarti tidak sopan kepada Allah. Demikian juga orang yang durhaka kepada Allah, ia juga tidak soapan kepada Allah.
Kata lain dari durhaka ialah maksiat.maksiat di sini mungkin berupa tidak melaksanakan perintah Tuhan (seperti shilat 5 waktu, puasa Ramadhan, berbakti kepada Bapak dan Ibu, menuntut ilmu Pengetahuan, dan lain sebagainya), mungkin juga berbentuk melanggar larangan Tuhan (seperti berjud, minum-minuman keras, takabbur, bohong dan lain sebagainya), atau mungkin juga berbentuk kedua-duannya: perintah-perintah Tuhan tidak dilaksanakan dan larangan-larangannya tidak di jauhi.
Suatu dialog tentang Ibadah kepada Tuhan, pernah terjadi antara Nabi Muhammad saw. Dengan seorang sahabatnya yang bernama Muaz bin Jabal. Diriwayatkan, bahwa pada suatu hari Muaz duduk dibelakang Nabi Muhammad diatas keledainya. Nabi berkata”Hai Muaz, taukah kamu apa hak Allah, atas hamba dan hak hamba atas Allah?”. Muaz menjawab: “Allah dan Raul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi menjelaskan: “Hak Allah atas hamba ialah, hendaknya hamba beribadah kepada Allah semata-mata dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun, sedang hak hamba atas Allah ialah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu”.
Atas dasar dialog Nabi Muhammad dengan Muaz bin Jabalini, Ibadah adalah hak Allah yang wajib ditunaikan oleh manusia. Maka beribadah berarti memenuhi apa yang menjadi hak Allah, dan sebaliknya tidak beribadah sam artinya dengan mengkorup hak Allah, suatu perbuatan moral yang sangat tercela yang tidak dapat dibenarkan.
2. Akhlak Terpuji Kepada Nabi Muhammad SAW Beriman Kepada Nabi yakni Muhammad SAW.
Seperti juga akhlak kepada Allah, maka akhlak manusia kepada Nabi Muhammad SAW tentu saja pertama-tama ialah: beriman kepada Nabi
13
Muhammad saw, yaitu percaya bahwa beliau adalah Nabi dan Rasul (utusan) Allah kepada manusia.12
Bagi orang yang ingin beragama Islam, Iman kepada Nabi saw ini, adalah modal utama disamping Iman kepada Allah. Sebab kedua hal itu disebutkan dalam dua kaliamat syahadat Islam yang merupakan pintu gerbang masuk Islam. Orang tidak mungkin menjadi Muslim dan tidak sah kemuslimannya kalau hanya beriman kepada salah satun-Nya dengan mengingkar kepada yang lain.
3. Akhlak Terpuji Kepada Alam
Akhlak kepada Alam mencakup hubungan manusia dengan lingkungannyadan hubungan manusia dengan hartanya. Seorang Muslim hendak memiliki sikap menjaga lingkungan dan tidak membuat kerusakan, memanfaatkan nya untuk kebaikan dan tidak melakukan eksploitasi yang berlebihan.
Bentuk akhlak terhadap alam ini didalam Al-qur’am secara jelas dinyatakan oleh Allah sebagai berikut:
قُلِِوظُزُواْمَاذَا فِيالسَّمَاوَاتِىَالأَرْضِىَمَاتُغْىِيالآيَاتُىَالىُّذُرُعَه قَىْمٍلِ يُؤْمِىُىنَ
“perhatikanlah yang ada di langit dan dibumi. Tidaklah bermanfaat pada kekuasaan Allah dan Raul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriaman.” (QS. Yunus:101)
Kandungan Ayat diatas mengandung makna bahwa setiap manusia diberi tempat oleh Allah, yaitu tanah, air dan segala isi dunia ini untuk digunakan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kewajiban kita mensyukurinya dengan memanfaatkannya serta menjaga sebaik-baiknya. Allah melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi ini karena akan merugikan manusia itu sendiri.13
C. Cara Meningkatkan Akhlak
1. Uswatun Hasanah
12 Humaidi Tatapangarsa, Akhlak yang Mulia, (surabaya: PT Bina Ilmu, Jl. Tunjungan 53E), hlm.20-21
13 Zubaedi, Transformasi nilai-nilai Pendidikan Islam Manajemen Berorientasi Link and Match, (Bengkulu: PT JL. Raden Fatah Km. 10 Pagar Dewa), hlm 41, 42
14
Metode ini mengutamakan melihat atau mencontoh seseorang yang kualitas akidahnya baik, seperti halnya para Nabi dan Rasul, atau tokoh tokoh lainnya.
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al-Ahzab ayat 21
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab : 21)
2. Ganjaran Bagi Yang Berakhlak Mulia
Orang yang berbuat baik atau memiliki akhlak yang baik akan memperoleh pahala yang tak ada batasnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-an’am ayat 160 :
“Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al-An’am : 160)
Rasulullah saw bersabda
Artinya:“Sesungguhnya seseorang mukmin itu dapat mencapai darjat orang yang berpuasa yang mendirikan sembahyang ditengah malam disebabkan akhlaknya yang mulia.” (H.R Abu Daud.)
Ganjaran bagi orang yang berakhlak mulia antara lain
Allah SWT memberi ganjaran yang amat tinggi kepada orang yang berakhlak mulia, setara dengan orang yang berpuasa serta mendirikan sembahyang di tengah malam.
Setiap Muslim hendaklah berusaha meningkatkan kualitas akhlaknya agar menjadi baik dan lebih baik sepanjang menjalani kehidupan di dunia ini karena setiap amalan akan dihitung dan dihisab di akhirat kelak.
Mukmin yang mempunyai akhlak mulia, bukan saja mendapat kemulian di dunia, bahkan mendapat darjat yang tinggi di sisi Allah di akhirat nanti.
15
Hukuman bagi yang berakhlak buruk
Diatas telah dikatakan bahwa orang yang berahklak mulia akan diberikan ganjaran yang amat tinggi dan mendapat derajat yang tinggi pula disisi Allah SWT. diakhirat nanti. Maka sebaliknya, orang yang berakhlak buruk akan diberikan hukuman oleh Allah SWT. di akhirat nanti. Allah SWT. Berfirman dalam surat An-Nisa ayat 79 :
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.(An-Nisa’ :79)
3. Nasehat yang baik
Nasehat mempunyai beberapa bentuk dan konsep yang sangat penting yaitu, pemberian nasehat berupa penjelasan mengaenai kebenaran dan kepentingan sesuatu dengan tujuan orang diberi nasehat akan menjauhi maksiat.
Metode nasehat sangat membantu terutama dalam penyampaian materi akhlak mulia, sebab tidak semua orang mengetahui dan mendapatkan konsep akhlak yang benar.
Nasehat menempati kedudukan tinggi dalam agama, karena agama adalah nasehat, hal ini diungkapkan oleh Nabi Muhammad sampai tiga kali ketika memberi pelajaran kepada para sahabatnya.
Meningkatkan Akhlak Dalam Kehidupan Sehari-hari
1. Dengan cara membiasakan diri untuk melakukan kebaikan dan menjauhi yang dilarang dalam agama Islam.
2. Berusaha menjauhkan diri dari permusuhan.
3. Berupaya meneladani perbuatan-perbuatan terpuji.
16
4. Membiasakan konsisten untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela.
5. Membiasakan diri bersifat zuhud.
6. Berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
7. Berusaha meningkatkan ibadah
Imam al-Ghazali berpendapat, bahwa metode-metode yang bisa meningkatkan kualitas akhlak seseorang dan cara penerapannya diantaranya: 1) Metode taat syariat
Metode ini berupa pembenahan diri, yakni membiasakan diri dalam hidup sehari-hari untuk melakukan kebajikan dan hal-hal bermanfaat sesuai dengan ketentuan syariat, aturan-aturan negara, dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Disamping itu berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dilarang syara’ dan aturan-aturan yang berlaku.
Metode ini sederhana dan dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya akan berkembang sikap dan perilaku positif seperti ketaatan pada agama dan norma-norma masyarakat, hidup tenang dan wajar, senang melakukan kebajikan, pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan.
Cara menerapkan metode tersebut sebagaimana berikut:
1. Membiasakan diri untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi yang di larang syara.
2. Menjauhi permusuhan.
3. Membiasakan diri untuk menyesuaikan dengan lingkungan.
2) Metode pengembangan diri
Metode yang bercorak psiko-edukatif ini didasari oleh kesadaran atas kekuatan dan kelemahan diri yang kemudian melahirkan keinginan untuk meningkatkan sifat-sifat baik dan sekaligus menghilangkan sifat-sifat buruk.
Dalam pelaksanaannya dilakukan pula proses pembiasaan (conditioning) seperti pada “Metode Taat Syari’at” ditambah dengan upaya
17
meneladani perbuatan dari pribadi-pribadi yang dikagumi. Membiasakan diri dengan cara hidup seperti ini secara konsisten akan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat terpuji yang terungkap dalam kehidupan pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Metode ini sebenarnya mirip dengan metode pertama, hanya saja dilakukan secara lebih sadar, lebih disiplin dan intensif serta lebih personal sifatnya dari pada metode pertama.
Cara menerapkan metode pengembangan diri adalah:
a. Berupaya meneladani perbuatan-perbuatan terpuji dari pribadi-pribadi yang dikagumi.
b. Membiasakan konsisten untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri sendiri.
c. Berusaha meningkatkan potensi-potensi baik yang ada pada diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
3) Metode kesufian
Metode ini bercorak spiritual-religius dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pribadi mendekati citra Insan Ideal (Kamil). Pelatihan disiplin diri ini menurut al-Ghazali dilakukan melalui dua jalan yakni al -mujahadah dan al-riyaadlah. Al-Mujāhadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk menghilangkan segala hambatan pribadi (harta, kemegahan, taklid, maksiat). Al-Riyādlah adalah latihan mendekatkan diri pada Tuhan dengan selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah. Kegiatan sufistik ini berlangsung dibawah bimbingan seorang Guru yang benar-benar berkualitas dalam hal ilmu, kemampuan dan wewenangnya sebagai Mursyid.
Diantara ketiga metode tersebut, metode kesufian dianggap tertinggi oleh al-Ghazali dalam proses peningkatan derajat keruhanian, khususnya dalam meraih akhlak terpuji.
Cara menerapkan metode ini adalah:
a. Membiasakan bersifat zuhud
b. Melakukan riyādhah / mendekatkan diri pada tuhan
c. Meningkatkan kualitas ibadah
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada hakikatnya khuluq (akhlak) ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian sehingga dari situlah timbul berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran. Apabila dari kondisi tadi timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syari’at dan akal pikiran, maka ia dinamakan akhlak mulia dan sebaliknya apabila yang lahir kelakuan yang buruk, maka
19
disebutlah akhlak yang tercela. Al-Khuluq disebut sebagai kondisi atau sifat yang telah meresap dan terpatri dalam jiwa serta timbulnya perbuatan itu dengan mudah sebagai suatu kebiasan tanpa memerlukan pemikiran.
Akhlak di bagi menjadi dua macam. Pertama, Akhlak Terpuji (Mahmudah) dan Akhlak Tercela (Madzmumah). Dalam akhlak terpuji terdapat beberapa akhlak kepada Tuhan, akhlak kepada Nabi Muammad dan akhlak terpuji kepada Alam semesta.
20
DAFTAR RUJUKAN
A.Nasir, Sahilun. Tinjauan Akhlak. 1991. Surabaya: Al-Ikhlas.
M. Abdullah, Yatimin. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an. 2007. Jakarta: AMZAH.
M. Firman, Imron F. Abd. Rozak, S.Ag, Rachmawati, Belajar Efektif Akidah Akhlak Kelas X Kurikulum 2004. Jakarta : PT Intimedia Ciptanusantara.
Miftahussirojudin, Muhammad. “Metode Peningkatan Kualitas Akhlak Terpuji”, 13 Januari 2014.
http://makalahpendidikanagama.blogspot.co.id/2014/01/metode-peningkatan-kualitas-akhlak.html
Mustofa, A. Akhlak Tasawuf. 1997. Bandung: Pustaka Setia.
Nata, Abuddin . Akhlak Tasawuf. 2006. Jakarta: Raja Grafindo.
Poerbakawatja, Soegarda. Ensiklopedi Pendidikan. 1976. Jakarta: Gunung Agung.
Sinaga, Hasanuddin & Zahruddin. Pengantar Studi Akhlak. 2004. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tatapangarsa, Humaidi. Pengantar Kuliah Akhlak. 1984. Surabaya: PT.bina ilmu.
Ya’qub, Hamzah. Etika Islam, 1993. Bandung: Diponegoro.
Zubaedi. Transformasi nilai-nilai Pendidikan Islam Manajemen Berorientasi Link and Match. Bengkulu: PT JL. Raden Fatah Km. 10 Pagar Dewa.

No comments:

Post a Comment